Refleksi pengalaman volunteer UFF Eko Tedjakumala

Posted: 20 February 2017 Category: Blog, News

Bertanya mengapa saya senang menjadi volunteer UFF sama saja dengan bertanya mengapa saya mencintai Ubud. Sebagai salah satu sentra seni dan budaya Bali, Ubud merupakan bentuk nyata pengejawantahan nilai-nilai keterbukaan yang dimiliki oleh budaya Bali. Hal ini terlihat dari begitu banyak warga asing dengan beragam latar belakang yang berkunjung atau tinggal di Ubud dan memberikan corak khas Ubud.
Hal yang sama dapat saya temui di UFF. Melalui sebuah medium bernama makanan, berbagai macam budaya bersatu di Ubud. Di UFF saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan kami semua bergembira bersama karena kami mencintai makanan. Satu hal yang sering terlupakan, makanan muncul karena manusia. Setiap kali kita menikmati rasa, kita menjalin hubungan dengan kenangan.
Bagi saya, hal terpenting dari sebuah hidangan bukan hanya cita rasa dari hidangan tersebut, cerita di balik setiap hidangan.
Banyak acara menarik yang bisa diikuti selama UFF seperti demo memasak, kelas memasak, talkshow, atau pasar makanan dengan jenis hidangan yang sangat beragam. Dua tahun saya mengikuti UFF dan setiap tahun saya selalu menemukan hal baru. Sushi Babi Guling, stuffed Kantong Semar (Ya, anda tidak salah baca, tanaman Kantong Semar) atau sosis Thailand yang disiapkan langsung oleh sekelompok anak muda Thailand yang tinggal di Bali. Semua memiliki cerita dan kenikmatannya masing-masing.
Bagi anda yang berminat menjadi volunteer, selalu ingat bahwa meskipun tujuan utama menjadi seorang volunteer adalah untuk bersenang-senang, namun komitmen anda dalam menjalankan tugas sebagai seorang volunteer harus menjadi prioritas. Anda harus bisa meyakinkan tim UFF bahwa anda adalah seorang pencinta makanan yang bisa bersenang-senang sekaligus seorang pekerja keras. Semoga sukses dan sampai berjumpa di UFF!